Selasa, 07 Juni 2016

Embara bulan Ramadhan 1437 H #1 : QS. Al-Kahfi (Gua) - bagian satu

Surah Al Kahfi: Surah ke-18. 110 ayat. Makkiyyah
 
Ayat 60-64: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Khadhir, dan di sana terdapat keutamaan mengadakan perjalanan jauh untuk mencari ilmu serta memikul kesulitannya serta bersikap tawadhu’ ketika berbicara dengan para ulama.
Ayat 65-74: Tindakan yang dilakukan Khadhir dan sanggahan Nabi Musa ‘alaihis salam terhadapnya.
(Jangan lupa baca Al-Qur'an masing-masing yaaa)

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 65-74
65. [6]Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami[7], yang telah Kami berikan rahmat[8] kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

66. Musa berkata kepadanya[9], "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk[10]?"

67. Dia menjawab, "Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku[11].

68. Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu[12]?"

69. Musa berkata, "Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun[13].

70. Dia berkata, "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun[14], sampai aku menerangkannya kepadamu[15].”

71. Maka berjalanlah keduanya[16], hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia (Khadhir) melubanginya[17]. Musa berkata, "Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?" Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

72. Dia (Khadhir) berkata, "Bukankah sudah kukatakan, "Bahwa engkau tidak mampu sabar bersamaku.”

73. Musa berkata, "Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku[18] dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku[19].”

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka dia (Khadhir) membunuhnya[20]. Dia (Musa) berkata, "Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih[21], bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tafsir Al Kahfi Ayat 60-74
[6] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa pernah berdiri khutbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Ia menjawab, “Saya orang yang paling dalam ilmunya.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala kemudian mewahyukan kepadanya yang isinya, “Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu.” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara menemuinya?” Lalu dikatakan kepadanya, “Bawalah ikan dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.” Musa pun berangkat bersama muridnya Yusya’ bin Nun dengan membawa ikan dalam keranjang, sehingga ketika mereka berdua berada di sebuah batu besar, keduanya merebahkan kepala dan tidur (di atas batu itu), lalu ikan itu lepas dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dan cara perginya membuat Musa dan muridnya merasa aneh. Keduanya kemudian pergi pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari. Ketika pagi harinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,” dan Musa tidak merasakan keletihan kecuali setelah melalui tempat yang diperintahkan untuk didatangi. Muridnya kemudian berkata kepadanya, “Tahukah engkau ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan,” Musa berkata, “"Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ketika mereka sampai di batu besar itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menutup dirinya dengan kain atau tertutup dengan kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Lalu Khadhir berkata, “Dari mana ada salam di negerimu?” Musa berkata, “Aku Musa.” Khadhir berkata, “Apakah Musa (Nabi) Bani Israil?” Ia menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?" Khadhir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa?” Sesungguhnya aku berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau berada di atas ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “Engkau akan mendapatiku insya Allah sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan mendurhakai perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu, lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, lalu keduanya berbicara dengan penumpangnya agar mengangkutkan mereka berdua, dan ternyata diketahui (oleh para penumpangnya) bahwa yang meminta itu Khadhir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung lalu turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Khadhir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah kecuali seperti patukan burung ini ke laut (yakni tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah), lalu Khadhir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian dicabutnya.” (Melihat keadaan itu) Musa berkata, “Orang yang telah membawa kita tanpa meminta imbalan, namun malah engkau lubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam.” Khadhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena lupaku dan janganlah engkau bebankan aku perkara yang sulit.” Untuk yang pertama Musa lupa, maka keduanya pun pergi, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khadhir memegang kepalanya dari atas, lalu menarik kepalanya dengan tangannya. Musa berkata, “Apakah engkau hendak membunuh seorang jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain.” Khadhir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” –Ibnu ‘Uyainah (rawi hadits ini) berkata, “Ini lebih berat.” Keduanya pun berjalan, sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta agar penduduknya menjamu mereka (namun tidak diberi). Keduanya pun mendapatkan sebuah dinding yang hampir roboh, maka Khadhir menegakkannya, Khadhir melakukannya dengan tangannya. Musa pun berkata, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Khadhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, kita senang sekali jika ia bersabar sehingga ia menceritakan kepada kita tentang perkara keduanya.”

Al Qurthubi berkata, “Dalam kisah Musa dan Khadir terdapat beberapa faedah, di antaranya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berbuat dalam kerajaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan menetapkan untuk makhluk-Nya dengan apa yang Dia kehendaki yang bermanfaat atau bermadharrat, sehingga tidak ada ruang bagi akal dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya dan menyalahkan hukum-hukumnya, bahkan wajib bagi manusia untuk bersikap ridha dan menerima, karena pencapaian akal untuk memperoleh rahasia rububiyyah Allah sangat terbatas, oleh karennya tidak bisa ditujukan kepada hukum-Nya, “Mengapa begini?” dan “Bagaimana bisa begitu?”, sebagaimana tidak bisa ditujukan terhadap keberadaan dirinya, “Di mana dan dari mana?”, dan bahwa akal tidak sanggup memandang indah dan buruk, dan bahwa semua itu kembalinya kepada syara’, sehingga apa yang dikatakan indah dengan adanya pujian terhadapnya, maka hal itu adalah indah, dan apa yang dikatakan jelek, maka hal itu adalah jelek. Demikian pula (termasuk faedahnya) bahwa Allah Ta’ala dalam ketetapan-Nya memiliki hikmah-hikmah dan rahasia pada maslahat yang tersembunyi yang memang dipandang. Semua itu dengan kehendak dan iradah-Nya tanpa ada kewajiban atas-Nya dan tanpa ada hukum akal yang tertuju kepadanya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang berhati-hati dari sikap i’tiradh (mempersoalkan atau membantah) karena ujung-ujungnya adalah kegagalan.” Beliau juga berkata, “Kami pun di sini ingin mengingatkan dua buah kekeliruan. Kesalahan Yang pertama, persangkaan sebagian orang-orang jahil, bahwa Khadhir lebih utama daripada Musa karena berpegang dengan kisah ini dan kandungannya. Hal ini tidak lain muncul dari orang yang pandangannya sempit terhadap kisah ini dan tidak melihat kelebihan yang Allah berikan kepada Musa ‘alaihis salam berupa kerasulan, mendengar langsung firman Allah, diberikan-Nya kitab Taurat yang di dalamnya tedapat pengetahuan tentang segala hal, dan sesungguhnya para nabi Bani Israil masuk di bawah syari’atnya dan pembicaraan tertuju kepada mereka dengan hukum kenabiannya bahkan Isa pun juga. Dalil-dalilnya dalam Al Qur’an banyak. Cukuplah di antaranya firman Allah Ta’ala, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku." (terj. Al A’raaf: 144).

Al Qurthubi juga berkata, “Khadhir meskipun nabi namun bukan rasul berdasarkan kesepakatan. Keadaan Khadhir itu seperti salah seorang nabi di antara nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Musa yang paling utama di antara mereka. Jika kita katakan, bahwa Khadhir bukan nabi, tetapi wali, maka nabi lebih utama daripada wali. Hal itu merupakan perkara yang jelas berdasarkan akal dan naql (wahyu). Orang yang berpendapat sebaliknya (yakni nabi lebih utama daripada wali) adalah kafir karena hal tersebut sudah maklum sekali dari syara’. Beliau juga berkata, “Kisah Khadhir bersama Musa adalah ujian bagi Musa agar diambil pelajaran. Kesalahan yang kedua, sebagian orang Zindiq menempuh jalan yang sebenarnya merobohkan hukum-hukum syari’at. Mereka berkata, “Sesungguhnya dari kisah Musa dan Kadhir dapat diambil kesimpulan, bahwa hukum-hukum syari’at yang umum hanya khusus bagi orang-orang awam dan orang-orang bodoh, adapun para wali dan orang-orang khusus, maka mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, bahkan yang diinginkan dari mereka adalah apa yang terjadi dalam hati mereka, dan mereka dihukumi berdasarkan apa yang kuat dalam lintasan hati mereka karena bersihnya hati mereka dari kekotoran dan kosongnya dari penggantian. Nampak kepada mereka ilmu-ilmu ilahi dan hakikat rabbani. Mereka pun mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengetahui hukum-hukum juz’iyyah (satuan) sehingga tidak butuh teradap hukum-hukum syari’at secara keseluruhan sebagaimana sesuai dengan Khadhir, di mana Beliau tidak butuh kepada ilmu-ilmu yang nampak baginya yang ada pada Musa, dan diperkuat oleh hadits masyhur, “Bertanyalah kepada hatimu meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.” Terhadap perakatan ini, Al Qurthubi berkata, “Perkataan ini merupakan perbuatan zindiq dan kekafiran, karena mengingkari syari’at yang maklum, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberlakukan ketetapan-Nya dan kalimat-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui kecuali melalui para rasul yang menjadi perantara antara Dia dengan makhluk-Nya, di mana rasul-rasul tersebut menerangkan syari’at dan hukum-hukum-Nya…dst.”

Hadits di atas juga memberikan faedah kepada kita agar tidak tergesa-gesa mengingkari dalam masalah yang masih mengandung kemungkinan (lihat penjelasan hadits di atas lebih lengkapnya di Fath-hul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani).

[7] Yaitu Khidhr.

[8] Yakni rahmat kenabian menurut suatu pendapat ulama, sedangkan menurut pendapat mayoritas ulama bahwa rahmat di sini adalah rahmat kewalian, yakni ia salah seorang wali di antara wali-wali-Nya.

[9] Musa berkata kepadanya secara sopan, bermusyawarah dan memberitahukan keinginannya.

[10] Nabi Musa ‘alaihis salam meminta kepada Khadhir agar diajarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadanya karena menambah ilmu itu disyari’atkan.

[11] Yakni karena engkau akan akan melihat perkara-perkara yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya, di mana perkara tersebut zahir(kelihatan)nya mungkar, namun sesungguhnya tidak.

[12] Yakni engkau belum mengetahui maksud dan akhirnya.

[13] Disebutkan kata “Insya Allah” karena Nabi Musa ‘alaihis salam belum yakin terhadap kemampuan dirinya, dan seperti inilah kebiasaan para nabi dan para wali, di mana mereka tidak merasa yakin terhadap diri mereka sedetik pun.

[14] Yang aku lakukan dan bersabarlah; jangan dulu mengingkari.

[15] Yakni alasannya. Maka Nabi Musa menerima syaratnya karena memperhatikan adab murid terhadap guru.

[16] Di tepi pantai.

[17] Dengan mencabut salah satu papannya, lalu menambalnya.

[18] Untuk tunduk menerima dengan tidak mengingkari.

[19] Yakni pergaulilah aku dengan sikap maaf dan memudahkan.

[20] Dengan menarik kepalanya dari atas.

[21] Karena anak itu belum baligh.

Jumat, 03 Juni 2016

mitsaaqan ghaliizha

Luar biasa karena akad nikah termasuk satu dari tiga perjanjian agung yang diikat kuat dengan sumpah setia alias mitsaaqan ghaliizha

Pertama, perjanjian Allah dengan para nabi-Nya. 
Kedua, perjanjian-Nya dengan Bani Israil sewaktu Bukit Tsur diangkat. 

Ketiga, ya itu tadi, perjanjian antara calon pemimpin rumah tangga dengan bapak mempelai wanita di hadapan-Nya. 
Betapa tingginya arti penyatuan dua sejoli berlawanan jenis lewat akad nikah sehingga keistimewaannya diabadikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. 

source: http://satriamaulana.tumblr.com/

Selasa, 31 Mei 2016

satu tahun dan lebih

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah Swt. Dan tahmid akan terus terucap.
Alhamdulilah sudah satu tahun dan lebih, saya berada di jakarta, bukan menetap, bukan tinggal atau apapun, hanya singgah.

Jujur, bukan cita-cita atau impian berada di Jakarta apalagi untuk bekerja, karena menurut saya, saya tidak cocok dengan Jakarta.
Definisi tentang Jakarta hanya silaturahmi dengan saudara yang tinggal di sana, titik. Definisi lain, Jakarta itu ibukota, macet, banjir, sibuk, dan lain hal yang tidak cocok dengan saya. Namun, rencana Allah menempatkan saya di sini, di Jakarta. Kota terbaik dimata-Nya untuk saya datangi-singgahi-dan tinggali (untuk sementara)

Allah ta’ala berfirman: (yang artinya)
“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

Bukan benci dengan Jakarta, hanya kurang atau tidak cocok saja. Namun, disinilah saya sekarang, di ibukota, yaitu Jakarta.

Pertanyaan klasik selalu muncul, kenapa?
Dan saya hanya bisa menjawab, Allah memberikan rezeki saya di sini, dan saya bersyukur akan hal itu. Namun, jujur, sebenarnya saya tidak punya alasan pasti dari pertanyaan 'kenapa?' itu hingga sekarang. Yang pasti saya bersyukur saya di Jakarta.

Sebelum di Jakarta saya sudah mencoba dan berkelana. Satu tempat ke tempat lainnya. Jadi jangan khawatirkan saya, saya tidak apa-apa. Saya tidak kecewa ataupun merasa gagal, tempat-tempat itu saja yang belum beruntung atas kehadiran saya. Jadi, apakah pertanyaan 'kenapa?' itu terjawab. Semoga sudah.

Saya bekerja di perusahaan satelit televisi berlangganan di barat Jakarta. Alhamdulilah posisi saya linier dengan ilmu saya walaupun tidak seutuhnya.

BERSAMBUNG
 

Jumat, 22 April 2016

Pas banget, kangen sama Mas !

Sepeda motor melaju kencang, aku memeluk erat kakakku dari belakang. Aku benci betul dengan motor sport kakakku ini karena sangat tidak nyaman untuk duduk dibelakang. Itu membuatku harus memeluk kakakku, mungkin orang mengira kami adalah sepasang kekasih.
“Hai Adik sayang, jangan tidur!”kakakku tiba-tiba menyentak.
“Eh enak aja! Kakak jangan ngebut, pegel nih dibelakang,”jawabku ketus.
“Salah sendiri gak bisa pakai motor kakak ini,”ujarnya.
“Yeee, jual aja ganti yang matic biar bisa gantian,”aku semakin ketus.
Kami berhenti diperempatan dekat sekolah SMA kami dulu. Sebuah mobil berhenti disebelah kami. Terlihat di dalamnya ada sepasangan suami istri juga orang tuanya. Terlihat begitu bahagia, meski aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Aku tersenyum. Aku menghela nafas.
Mobil itu berjalan, kami pun. Aku memerhatikan kakaku dari belakang, memerhatikan kepalanya yang tertutup helm full-face, memerhatikan tangannya yang memegang stang motor, memerhatikan bahunya. Tiba-tiba aku merasa sayang dengan kakakku ini, aku tersenyum.
Aku memeluk kakak dari belakang.
“Kak, pelan-pelan dong,"aku merajuk.
Sekalipun kami bertengkar, sebenarnya kakakku ini sulit menolak keinginanku kecuali urusan sepeda motor ini.
"Kak, kakak kalau nyari istri nanti yang baik ya, Kak.”
“Eh, ngomong apaan?” kakakku kaget.
“Iya, kalau nyari perempuan buat jadi istri kakak. Nyari yang baik.”
Ia tidak menghiraukanku. Aku terus berbicara.
“Kak, kemarin adik kan ngaji. Kalau udah nikah, adik harus lebih taat sama suami daripada sama ayah dan ibu. Lalu adik mikir, berarti sebenarnya tanggungjawab buat ngurus ayah dan ibu itu ada sama menantu perempuan dan anak laki-lakinya. Kalau laki-laki menikah, ketaatan dengan orang tuanya tidak berpindah, berbeda dengan perempuan. Adik pengen kakak kalau nyari menantu buat ayah dan ibu, cari yang baik ya Kak. Perempuan yang sayang sama mereka, yang bisa membantu kakak buat ngurus ayah sama ibu nanti. Karena mungkin adik tidak bisa berada lebih banyak untuk mereka.”
Kami terdiam.
“Adik kadang berpikir, mengapa perempuan harus seperti itu. Namun, adik mengerti dengan melihat bagaimana ibu selama ini ketika menjadi istri ayah.”
Kakakku diam saja, aku masih memeluknya, berbicara di dekat telinganya yang tertutup helm. Aku tahu dia masih bisa mendengar.
“Kak, berjanjilah untuk mencari perempuan yang baik. Tidak hanya baik kepada kakak, tapi juga sama ayah dan ibu. Perempuan yang sayang sama mereka, yang menghormati mereka, yang lembut dan menghargai mereka.”
Tiba-tiba kakakku menepi, menghentikan sepeda motornya. Aku melepas pelukan, heran. Dia membuka helmnya lalu menoleh. Dia tersenyum, mengelus kepalaku yang masih memakai helm.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku memeluk kakaku semakin erat, seolah-olah takut kalau dia diambil sama orang lain. Tapi aku sadar bahwa suatu hari kakaku pasti akan diambil orang lain. Perhatiannya kepadaku mungkin tidak akan seperti hari ini lagi.
“Kak, aku sayang kakak. Cariin suami yang baiknya kayak kakak dong.”
Rumah, 21 April 2016 | ©kurniawangunadi

*Pertama, terimakasih masgun untuk kisahnya, jadi keinget dan kangen (selalu) sama mas aku lagi :')

*Kedua, rasanya pingin bisa meluk mas aku lagi namun akan segera ku ganti dengan panjatan do'a agar kelak kita sekeluarga besar kumpul bersama lagi disurgaNya,tunggu kita yaa mas!
 

*Ketiga, rasanya teringat kembali citaku ingin punya kakak perempuan (calon mas aku kelak) namun aku yakin mas aku sudah disiapkan dengan bidadari cantik olehNya,yey aku punya kakak perempuan bidadari :)
 

*Keempat, rasanya pingin dicariin mas aku calon yang baik (suami buat aku) dan aku yakin itu pasti sudah disiapkan Allah swt, orang yang tepat di waktu yang tepat.
 

*Kelima, semoga aku dipertemukan suami skaligus imam skaligus ayah untuk anak-anakku kelak yang terbaik di mataNya. Dan semoga suamiku kelak memiliki banyak saudara, jadi aku akan memiliki kakak perempuan juga laki-laki, dan adek perempuan juga laki-laki biar keluarganya rame terus,yey! Terutama saudara perempuan yang banyak karena dari dulu pingin punya saudara perempuan :)
 

*Keenam, semoga aku bisa terus memperbaiki diri untuk suamiku kelak, menjadi istri shalelah,menjadi anak shalehah (menantu) yang berbakti pada kedua orang tua suami (mertua) karna pada merekalah aku berbakti setelah menikah, dan suami berbakti pula pada kedua orangtuaku serta selalu mendukung aku menjadi anak shalehah untuk kedua orangtuaku.
 

*Ketujuh, semoga aku dianugerahi anak-anak yang banyak aamiin, kalau boleh kembar :)) yang paling penting dianugerahi keluarga kecil-besar sakinah mawaddah warrahmah selalu tertaut pada Allah, mendapat berkah, anak sholeh-sholehah, dan banyak kepinginnya, yang terbaik dari Allah aja :)
 

*Kedelapan, semoga adek laki-lakiku dipertemukan dengan perempuan baik (calon istrinya kelak) yang sepenuh hati, tulus, penuh kasih dan sayang pada adekku serta berbakti pada kedua orangtuaku.
 

Dan seterusnya.
Doa terbaik selalu terpanjat padamu Ya Allah.
Hanya Engkau yang tahu, yang terbaik untuk hambaMu ini yang banyak alpha.

Terakhir, kangen sama kamu Mas Bagas :')

Selasa, 08 Maret 2016

SAMPAI BATAS - masgun

Suatu malam, saya bercakap dengan kawan lama yang akan menikah beberapa minggu lagi. Mungkin, semacam farewel masa lajangnya, sekaligus meminta nasihat-nasihat baiknya. 
Aku : saya 
Zahra : kawan lama, bukan nama sebenarnya
Cerita ini dimulai dengan obrolan ringan hingga berujung pada pertanyaan-pertanyaan di life-crisis. 
Aku : Eh, kalau kamu mendapati sesuatu yang berharga, apakah kamu bersedia mengorbankan banyak hal dalam hidupmu? Waktu, tenaga, usia, pikiran, untuk memperjuangkannya yang belum tentu juga itu akan jadi milikmu? 
Zahra : Aku mah realistis anaknya, susah ditanya begitu... 
Aku : Haha..., gimana dong?  
Zahra : Ini maksudmu, memperjuangkan X? (temanku ini menyebut nama seseorang yang aku taksir) 
Aku : Kenapa sebut nama -_- 
Zahra : Kalau kamu percaya bisa memperjuangkan agama lewat dia, baru deh. 
Aku : Allahu Akbar! 
Zahra : Pasangan hidup itu jalan, tujuannya Allah!  
Aku : Siap, Bos! 
Zahra : Pasangan hidup juga bukan pilihan, yang memilihkan Allah. Intinya ikut aja sama kata Allah. Kalau dibilang enggak, nggak usah maksa. Kalau dibilang iya, perjuangkan dan pelihara.  
Aku : Bagaimana kita tahu, itu iya dan itu tidak? 
Zahra : Beda-beda, aku sih ngasih batas tiga kali ke diri sendiri. Dalam hal apapun, kalau enggak berhasil di percobaan ketiga, berarti ada jalan lain. 
Aku : Aku baru ke... 
Zahra : Yang penting definisi jalan dan tujuannya yang harus jelas, kamu boleh ngasih batas yang berbeda, nggak mesti tiga kali kayak aku. 
Aku : Aku paham! Aku tahu di mana batasnya! :)  
Zahra : Siti Hajar dapat air setelah percobaan ke tujuh, iya gitu aja. Definisi jalan dan tujuan. Lalu apa batasnya. Coba sampai batasnya, kalau enggak, ganti jalan. Coba sampai batasnya, nanti Allah akan turun tangan.
  
Aku : Terima kasih :) 
Zahra : Sabar ya, jangan melampaui batas. 
Yogyakarta, 3 Maret 2016 | (c)kurniawangunadi


note: dan 'jangan kelewatan batas' yaa an *nasehatuntukdirisendiri

Kamis, 18 Februari 2016

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Marifat

kak angie
ka jelasin secara singkat dan mudah dimengerti dong tentang syariat, tarekat, hakikat dan marifat. syukron kaa Hervita Ruwinda

Hakikat manusia hidup itu untuk berma'rifat pada Allah, berma'rifat itu realisasinya dengan qt melaksanakan syariat, sedangkan syariat itu susah dilaksananakan tanpa ilmu tarekat.
Hakikat = makna sesuatu, (untuk apa manusia diciptakan, dll)
Ma'rifat = cinta pada Allah, meng'esa'kan Allah, menomor satukan Allah di banding apapun di dunia ini.
Syariat = perintah & larangan Allah untuk manusia (shalat, puasa, zakat, berhijab, qisas, sedekah, ngaji, qiyamul lail, dll)
Tarekat = cara2 agar kita mampu melaksanakan syariat, untuk membuktikan bahwa kita ber ma'rifat pada Allah.
Syariat tanpa hakikat = HAMPA
Contoh, kita shalat, puasa, zakat, dll tapi kita tidak sadar untuk apa manusia diciptakan, jadi syariat disini hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tidak manfaat. Banyak kita temui orang yg rajin shalat tp gemar maksiat, padahal kata Allah, inna shalata anil fahsya'i wal munkar, shalat itu mencegah perbuatan keji&mungkar. Itu kata Allah loh, tp ko bisa jaman skrg orang shalat tp ttp aja gemar maksiat, nah brrti dia tak faham sama hakikat dia hidup, (Jadinya HAMPA)
Hakikat tanpa syariat = BATIL
Contoh, kita tau hidup untuk apa, sadar betul bahwa semua yg ada di dunia ini ciptaan Allah, katanya cinta sm Allah&Rasulullah, tp ngga menjalankan syariat yg Allah tetapkan sprti shalat berhijab dll, jadinya ya dusta! Kalo cinta, pasti jalankan perintah&jauhi larangan :)
Jelas belum ya? Semoga bisa dimengerti :)
whuaaa maafkan saya yang masih terus repost-reblog-reask (atau apapun namanya), hiks jadi sedih dan prihatin banget :'(
karena ini ilmu agama jadi menebar ilmu demi kebaikan gapapa yaa
sekalian belajar untuk berdakwah walau dengan repost-reblog-reask (atau apapun namanya).
Mari terus belajar dan memperbaiki diri untuk Allah *nasehatindirisendiri

Rabu, 03 Februari 2016

MENULIS !!!

Assalamu'alaikum wr.wb
Mohon maaf sodara-sodari sekalian, untuk kesekian kalinya saya masih re-posting lagi.
InsyaAllah ada manfaatnya yaaa

Selamat membaca dan jangan lupa, yuk menulis !
nulisbuku

Kiat Menyelesaikan Bukumu Tahun Ini


Berapa banyak novel yang ingin kamu tulis tahun ini? Kalau belum punya yuk targetkan, minimal kamu harus menulis satu buku sebelum tahun 2016 berakhir.
Salah satu kunci untuk menyelesaikan menulis novel adalah persiapan yang baik. Ketahui apa yang ingin kamu tulis. Jika memang sudah tidak tahan lagi, tulislah. Sejalan dengan perkembangan tulisanmu, catat ide-ide serta rancangan cerita cerita, plot, karakter, dan lain-lain. Hal tersebut kamu lakukan agar kamu tidak kehilangan arah tujuan di tengah-tengah proses menulismu.
Persiapan matang untuk tulisan pun harus diimbangi dengan kedisiplinan diri. Ada beberapa tip untuk mempertahankan kedisiplinan dan membentuk kebiasaan menulis demi meraih target bukumu tahun ini.
1. Konsistensi.
Konsistensi dalam menulis akan membentuknya menjadi kebiasaan. Temukan waktu tetap untuk menulis dan gunakan waktu tersebut. Menulis setiap hari memang baik, tapi dilakukan setiap 2-3 hari sekali pun tidak masalah. Lebih baik menulis sedikit dan rutin dibanding tidak menulis sama sekali. Usahakan menulis di waktu yang sama, agar otakmu bisa membiasakan diri berada dalam kondisi menulis pada waktu tersebut.
2. Tetapkan jadwal menulismu.
Kesibukan sehari-hari memang menyita waktu, tapi ketika kamu berniat sungguh-sungguh untuk menulis, kamu bisa menemukan waktu. Sisihkan waktu khusus untuk menulis. Jika kamu hanya punya 30 menit sehari, tidak masalah. Jika punya lebih banyak, tentunya akan lebih banyak tulisan yang bisa kamu buat.
3. Tentukan target kata.
Mengapa harus punya target kata? Target kata berguna untuk memotivasimu setiap kali sesi menulis. Dua jam untuk 1000 kata? Lain kali kamu harus tingkatkan lagi. Selain itu, menetapkan target kata tidaklah sulit. Salah satu caranya dengan menentukan apa yang ingin kamu tulis, misalnya novel. Umumnya novel mengandung kata. Dengan membuat target harian, kamu bisa menentukan berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikannya.
4. Waktu menulis adalah untuk menulis.
Waktu yang sudah kamu tentukan gunakan untuk memindahkan ide-ide dalam kepalamu dalam bentuk tulisan. Singkirkan hal-hal yang kira-kira akan mengganggumu saat menulis. Dan meskipun pikiranmu terus-terusan dibobardir ide, plot, pada waktu random, catatlah dan tulislah ketika waktu menulis.
5. Bergabung dengan grup menulis. Atau carilah teman yang mendukungmu menulis. Berkumpulah sebulan sekali atau secara rutin untuk membahas tentang tulisan dan saling memberi masukan.
6. Membacalah sebanyak yang kamu bisa. Membaca adalah cara tepat untuk menyempurnakan karyamu; kamu bisa melihat yang lain membangun struktur plot mereka, mengembangkan karakter, atau menulis dialog, dan semua itu bisa membantu mengembangkan kemampuanmu.
7. Ketahui apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Pada akhir sesi menulis, buat catatan tentang apa yang harus kamu lanjutkan atau kerjakan di sesi menulis selanjutnya. Jadi, di sesi selanjutnya, kamu bisa langsung meneruskan tanpa harus menghabiskan waktu mengawang-awang apa yang akan kamu tulis.
8. Menulislah. Menulislah sekarang juga. Jangan tunda-tunda lagi.
Itulah delapan cara yang bisa kamu terapkan agar rencana menulismu lebih sukses tahun ini. Menulis bukan hal gampang, tapi dengan menjadikannya sebagai rutinitas dan kebiasaan, lama-kelamaan kamu akan menemukan ritme menulismu sendiri. Lawan segala bentuk kemalasan di tahun ini dan mulailah menulis!
(sumber)