Rabu, 08 Juni 2016

Embara bulan Ramadhan 1437 H #2 : QS. Maryam - bagian satu

Surah Maryam: Surah ke-19. 98 ayat. Makkiyyah 

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-11: Kemukjizatan Al Qur’an, kisah Nabi Zakariyya ‘alaihis salam, rahmat Allah kepada hamba-Nya Nabi Zakariyya, pentingnya menampakkan kelemahan dan kebutuhan ketika berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, penjelasan bahwa kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak ada yang dapat melemahkannya, permohonan keturunan yang saleh dan sikap syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Terjemah Surat Maryam Ayat 1-11
1. Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad.

2. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria[1],

3. (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut[2].

4. Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh (semua) tulangku telah lemah[3] dan kepalaku telah dipenuhi uban[4], dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, Ya Tuhanku[5].

5. Dan sungguh, aku khawatir terhadap mawaliku[6] sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu,

6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya'qub[7]; dan jadikanlah dia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai[8].”

7. (Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya[9], yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.

8. Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?”

9. Allah berfirman, "Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, "Hal itu mudah bagi-Ku[10]; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal pada waktu itu engkau belum berwujud sama sekali.”

10. Dia (Zakaria) berkata, "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda[11].” Allah berfirman, "Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia[12] selama tiga malam[13], padahal engkau sehat.”

11. Maka dia keluar dari mihrab[14] menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah[15] kamu pada waktu pagi dan petang.”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tafsir Maryam Ayat 1-11
[1] Maksudnya, Kami akan bacakan kepadamu kisahnya dan menjelaskannya agar dapat diketahui lebih jelas keadaan Nabi Zakaria, peninggalannya yang baik dan keutamaannya, di mana dalam kisah itu terdapat pelajaran dan teladan. Di samping itu, menjelaskan lebih rinci rahmat Allah kepada seorang hamba mendorong kita untuk mencintai Allah Subhaanahu wa Ta'aala, banyak mengingat-Nya, mengenal-Nya dan merupakan sebab yang dapat menghubungkan kita kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memilih Zakaria menjadi rasul-Nya dan memberikan wahyu kepadanya, maka Beliau melaksanakannya sebagaimana rasul-rasul-Nya yang lain. Beliau mengajak manusia kepada Allah, menasehati mereka di masa hidupnya hingga wafatnya. Saat Beliau merasakan kelemahan fisik pada dirinya dan khawatir akan wafat namun tidak ada yang menggantikan posisinya untuk mengajak manusia kepada Allah, maka Beliau mengeluhkan kelemahan dirinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan berdoa dengan suara yang lembut dan pelan agar lebih sempurna, lebih utama dan lebih ikhlas.

[2] Di tengah malam, karena pada waktu itu lebih cepat diijabah (dikabulkan).

[3] Ketika tulang telah lemah, di mana ia merupakan penopang badan, maka anggota badan yang lain tentu ikut lemah.

[4] Uban merupakan tanda kelemahan dan ketuaan, utusan maut, pemandunya dan peringatan terhadapnya. Nabi Zakaria bertawassul kepada Allah dengan kelemahan dirinya, dan hal ini termasuk cara bertawassul yang dicintai Allah, karena hal ini menunjukkan sikap berlepas diri dari kemampuan dirinya serta bergantung kepada kekuatan Allah ‘Azza wa Jalla.

[5] Yakni Engkau tidak menghendaki aku kecewa dan terhalang dari dikabulkan doa, bahkan Engkau senantiasa menyambutku dan mengabulkan doaku. Kelembutan-Mu selalu mengalir kepadaku dan ihsan-Mu senantiasa sampai kepadaku. Di sini Beliau bertawassul kepada Allah dengan nikmat yang diberikan-Nya kepada dirinya dan pengabulan-Nya terhadap doanya yang terdahulu; Beliau meminta kepada Allah Tuhan yang telah berbuat baik dahulu agar Dia menyempurnakan ihsan-Nya pada kesempatan selanjutnya.

[6] Yang dimaksud oleh Zakaria dengan mawali adalah orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusan yang terkait dengan agama sepeninggalnya dan yang memimpin Bani Israil serta yang mengajak mereka kepada Allah. Zakaria khawatir kalau orang-orang yang menggantikannya adalah orang-orang tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercaya, oleh sebab itu Beliau meminta dianugerahi seorang anak. Nampaknya, Beliau tidak melihat adanya orang yang layak memegang posisi imaamah fid din (pemimpin dalam agama). Hal ini menunjukkan perhatian Beliau kepada kaumnya, dan lagi permintaan Beliau agar dianugerahi anak tidak seperti permintaan orang lain, bahkan untuk maslahat agama dan agar agama ini tidak hilang. Beliau melihat bahwa selain Beliau tidak cocok terhadap imamah fid din, dan ketika itu hanya rumah Beliau yang paling terkenal tentang kebaikan agamanya, oleh karenanya Beliau meminta kepada Allah agar dianugerahkan seorang anak yang akan menegakkan agama-Nya setelah Beliau wafat.

[7] Berupa ilmu, amal dan kenabian.

[8] Di sisi-Mu.

[9] Allah menamainya dengan Yahya, sesuai dengan orangnya, di mana ia hidup secara hissiy (konkrit) maupun maknawi (abstrak). Contoh maknawi adalah hidupnya hati dan ruh dengan wahyu dan ilmu, sehingga sempurnalah nikmat yang diberikan kepadanya.

[10] Yakni mewujudkan sesuatu tanpa sebab adalah hal yang sangat mudah bagi-Nya.

[11] Yakni yang menunjukkan kehamilan istriku. Perkataan ini adalah agar hati Beliau tenang (mantap), bukan karena ragu-ragu terhadap berita Allah. Hal ini seperti perkataan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (lihat Al Baqarah: 261). Beliau meminta kepada Allah agar ditambah lagi ilmunya dan disampaikan kepada ‘ainul yaqin (penglihatan yang yakin) setelah ‘ilmul yaqin (pengetahuan yang yakin), maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabulkan permohonannya sebagai rahmat untuknya.

[12] Selain dzikrullah.

[13] Yakni tiga hari tiga malam. Hal ini termasuk ayat-ayat Allah yang menakjubkan, karena tidak mampunya Beliau berbicara dengan manusia selama tiga hari bukan karena bisu atau penyakit, termasuk dalil yang menunjukkan kekuasaan Allah yang menyelisihi kebiasaan. Meskipun Beliau terhalang dari berbicara dengan manusia, namun dzikrullah tidaklah tertahan. Oleh karena itu, di ayat lain Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari".(Terj. Ali Imran: 41), hati Beliau pun tenang dan merasa gembira dengan kabar tersebut, Beliau mengikuti perintah Allah untuk bersyukur, yaitu dengan beribadah dan menyebut nama-Nya, maka Beliau berdiam di mihrabnya dan keluar kepada kaumnya dengan berisyarat agar mereka bertasbih di pagi dan petang.

[14] Yakni dari masjid. Ketika itu kaumnya menunggu agar Beliau membukakan mihrabnya untuk shalat di situ dengan perintahnya seperti biasanya.

[15] Ada yang menafsirkan dengan, “Shalatlah.”

Selasa, 07 Juni 2016

Embara bulan Ramadhan 1437 H #1 : QS. Al-Kahfi (Gua) - bagian dua

Surah Al Kahfi: Surah ke-18. 110 ayat. Makkiyyah 

Juz 16
Ayat 75-77: Tindakan yang dilakukan Khadhir dan sanggahan Nabi Musa ‘alaihis salam terhadapnya.

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 75-77 
75. Khadhir berkata, "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?"

76. Dia (Musa) berkata, "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku[1].”

77. Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri[2], mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka[3], kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu) lalu dia (Khadhir) menegakkannya. Musa berkata, "Jika engkau mau, niscaya engku dapat meminta imbalan untuk itu[4].”

Ayat 78-82: Hikmah-hikmah dari perbuatan Khadhir.

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 78-82 
78. Dia (Khadhir) berkata, "Inilah perpisahan antara aku dengan engkau[5]; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.

79. Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut[6], aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja[7] yang akan merampas setiap perahu[8].

80. Dan adapun anak itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran[9].

81. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan seorang anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anak itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)[10].

82. Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, sedang ayahnya seorang yang saleh[11], maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat[12] bukan menurut kemauanku sendiri[13]. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya[14].”

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tafsir Al Kahfi Ayat 75-82 
[1] Yakni engkau telah memberiku uzur dan tidak mengurangi.

[2] Ada yang mengatakan, bahwa negeri itu adalah negeri Anthakiyah.

[3] Padahal yang demikian (menjamu tamu) wajib bagi mereka.

[4] Yakni karena mereka tidak menjamu kita, padahal kita butuh makan.

[5] Yakni karena engkau telah membuat syarat terhadap dirimu, uzur telah hilang serta kita tidak bisa bersama lagi.

[6] Yang seharusnya dikasihani.

[7] Yang zalim.

[8] Yang kondisinya baik. Dengan dilubangi perahunya, maka perahu ini selamat dari rampasan raja yang zalim tersebut.

[9] Yakni maka aku membunuhnya untuk menyelamatkan agama ibu bapaknya. Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya anak yang dibunuh oleh Khadhir sudah dicap sebagai orang kafir. Jika ia tetap hidup, maka ia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.”

Yang demikian karena kecintaan yang dalam dari orang tua kepadanya, sehingga mau menuruti keinginan anaknya.

[10] Yakni anak yang saleh, bersih, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Berbeda dengan anak sebelumnya yang jika dibiarkan hingga dewasa, maka anak itu akan durhaka kepada kedua orang tuanya, bahkan akan membuat orang tuanya sesat dan kafir.

[11] Keadaan kedua anak yatim tersebut perlu diperhatikan, karena telah ditinggal wafat bapaknya ketika masih kecil. Allah menjaga keduanya karena kesalehan bapaknya.

[12] Yaitu melubangi perahu, membunuh anak muda, dan menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

[13] Bahkan ilham dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[14] Dalam kisah Musa dan Khadhir terdapat beberapa pelajaran, di antaranya:

- Keutamaan ilmu,

- Keutamaan mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu. Hal itu, karena Nabi Musa ‘alaihis salam lebih memilih mengadakan perjalanan panjang untuk mencari ilmu meninggalkan (sementara) mengajar dan membimbing Bani Israil.

- Mendahulukan perkara yang terpenting di antara sekian yang penting. Nabi Musa ‘alaihis salam di samping mengajar, Beliau menyempatkan diri untuk belajar. Hal itu, karena air dalam sebuah teko, jika terus dituang, maka akan habis sehingga perlu diisi.

- Bolehnya mengangkat pelayan baik ketika tidak safar maupun safar untuk memenuhi kebutuhannya.

- Bepergian untuk mencari ilmu atau berjihad dsb. jika maslahat menghendaki untuk diberitahukan tujuannya dan kemana tujuannya, maka hal itu lebih sempurna daripada disembunyikan. Hal ini berdasarkan perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” Demikian pula sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan para sahabat ketika hendak pergi ke Tabuk padahal biasanya Beliau menyembunyikan. Oleh karena itu, dalam masalah ini dilihat maslahatnya.

- Dihubungkannya keburukan dan sebab-sebabnya kepada setan karena godaan dan penghiasannya, meskipun semua terjadi dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya.

- Bolehnya seseorang memberitahukan keadaan dirinya yang menjadi tabi’at manusia, seperti lelah, lapar, haus, dsb. selama tidak menunjukkan marah-marah atau kesal dan kenyataannya memang demikian.

- Dianjurkan memilih pelayan orang yang pandai dan cekatan agar urusan yang diinginkannya menjadi sempurna.

- Dianjurkan seseorang memberikan makanan kepada pelayannya dengan makanan yang biasa dimakannya dan makan secara bersama-sama.

- Pertolongan akan turun kepada seorang hamba sejauh mana ia menjalankan perintah Allah, dan bahwa orang yang mengikuti perintah Allah akan diberikan pertolongan tidak seperti selainnya.

- Hendaknya seseorang memiliki sopan santun kepada guru dan berbicara kepadanya dengan perkataan yang halus. Perkataan Nabi Musa ‘alaihis salam, "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?" seperti meminta pendapat, dan hal ini menunjukkan kelembutannya. Berbeda dengan orang-orang yang keras dan sombong, yang tidak menampakkan rasa butuh kepada ilmu gurunya.

- Tawadhu’nya orang yang utama untuk belajar kepada orang yang berada di bawahnya.

- Belajarnya seorang alim terhadap ilmu yang tidak dimilikinya kepada orang yang memilikinya, meskipun orang tersebut di bawah jauh derajatnya darinya. Oleh karena itu, tidak patut bagi seorang ahli fiqh dan ahli hadits jika ia kurang dalam ilmu nahwunya atau sharfnya atau ilmu lainnya tidak mau belajar kepada orang yang mengerti tentangnya, meskipun orang itu bukan ahli hadits atau ahli fiqh.

- Penisbatan ilmu dan kelebihan lainnya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mengakui bahwa ilmu atau kelebihannya itu berasal dari Allah. Hal ini berdasarkan kata-kata Nabi Musa ‘alaihis salam, ”Agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu.”

- Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan. Oleh karena itu, setiap ilmu yang di sana terdapat petunjuk kepada jalan-jalan kebaikan, memperingatkan jalan-jalan keburukan, atau sarana yang bisa mengarah kepadanya, maka ilmu tersebut termasuk ilmu yang bermanfaat.

- Orang yang tidak kuat bersabar untuk tetap bersama seorang guru, maka kehilangan banyak ilmu sesuai ketidaksabarannya.

- Sebab untuk bisa bersabar terhadap sesuatu adalah ketika seseorang mengetahui tujuan, faedah, buahnya dan hasilnya dari sesuatu itu.

- Perintah agar seseorang tidak tergesa-gesa menghukumi sesuatu sampai mengerti maksud dan tujuannya.

- Menyertakan kalimat “Insya Allah” terhadap perbuatan-perbuatan hamba di masa datang.

- Seorang guru apabila melihat ada maslahatnya menyuruh murid agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai guru tersebutlah yang nanti akan memberitahukan jawaban, maka bisa dilakukan. Misalnya karena guru melihat, bahwa pemahaman si murid masih sedikit atau khawatir akalnya tidak sampai atau karena ada masalah lain yang lebih penting untuk dipelajari olehnya.

- Orang yang lupa tidaklah dihukum, baik terkait dengan hak Allah maupun hak manusia.

- Sepatutnya seseorang mengambil sikap memaafkan ketika bergaul dengan manusia, dan tidak sepatutnya ia membebani mereka dengan beban yang tidak disanggupinya.

- Perkara-perkara dihukumi sesuai zahirnya, dan bahwa hukum-hukum duniawi dikaitkan dengannya, baik dalam hal harta, darah maupun lainnya. Hal itu, karena Nabi Musa ‘alaihis salam mengingkari Khadhir ketika melubangi perahu dan membunuh anak, di mana hal ini zahirnya adalah perkara munkar.

- Tidak mengapa melakukan keburukan yang ringan agar keburukan yang besar dapat disingkirkan, dan memperhatikan maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan maslahat yang ringan. Membunuh anak merupakan keburukan, akan tetapi membiarkannya sehingga mengakibatkan ibu bapaknya kafir maka lebih buruk lagi.

- Perbuatan yang dilakukan seseorang pada harta orang lain untuk maslahat orang lain itu dan menyingkirkan mafsadat adalah dibolehkan meskipun tanpa izinnya meskipun terkadang perlu merusak sedikit harta orang lain.

- Bekerja boleh di laut, sebagaimana boleh pula di daratan.

- Membunuh merupakan dosa yang besar.

- Membunuh karena qishas bukan merupakan kemungkaran.

- Hamba yang saleh, Allah jaga dirinya dan keturunannya.

- Melayani orang yang saleh adalah amalan utama.

- Memiliki adab terhadap Allah dalam menggunakan lafaz. Khadhir misalnya, ia menisbatkan kepada dirinya ketika melubangi perahu, adapun terhadap perbuatan baik, maka ia menisbatkannya kepada Allah.

- Seorang sahabat hendaknya menemani sahabatnya yang lain, tidak berpisah dan meninggalkannya sehingga ia mengemukakan alasan.

- Sepakatnya kawan yang satu dengan yang lain dalam masalah yang tidak terlarang merupakan sebab kuatnya persahabatan.

- Perbuatan yang dilakukan Khadhir adalah taqdir Allah Subhaanahu wa Ta'aala semata yang Allah jalankan melalui tangan Khadhir untuk menunjukkan kepada manusia betapa lembutnya keputusan-Nya, dan bahwa Dia menaqdirkan untuk hamba perkara-perkara yang tidak disukainya, namun di sana terdapat kebaikan untuk agamanya atau dunianya. Hal ini juga agar mereka ridha dengan qadha’ dan qadar-Nya (lihat Tafsir As Sa’diy).

(sumber: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-kahfi-ayat-75-85.html)

Embara bulan Ramadhan 1437 H #1 : QS. Al-Kahfi (Gua) - bagian satu

Surah Al Kahfi: Surah ke-18. 110 ayat. Makkiyyah
 
Ayat 60-64: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Khadhir, dan di sana terdapat keutamaan mengadakan perjalanan jauh untuk mencari ilmu serta memikul kesulitannya serta bersikap tawadhu’ ketika berbicara dengan para ulama.
Ayat 65-74: Tindakan yang dilakukan Khadhir dan sanggahan Nabi Musa ‘alaihis salam terhadapnya.
(Jangan lupa baca Al-Qur'an masing-masing yaaa)

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 65-74
65. [6]Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami[7], yang telah Kami berikan rahmat[8] kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

66. Musa berkata kepadanya[9], "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk[10]?"

67. Dia menjawab, "Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku[11].

68. Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu[12]?"

69. Musa berkata, "Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun[13].

70. Dia berkata, "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun[14], sampai aku menerangkannya kepadamu[15].”

71. Maka berjalanlah keduanya[16], hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia (Khadhir) melubanginya[17]. Musa berkata, "Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?" Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

72. Dia (Khadhir) berkata, "Bukankah sudah kukatakan, "Bahwa engkau tidak mampu sabar bersamaku.”

73. Musa berkata, "Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku[18] dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku[19].”

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka dia (Khadhir) membunuhnya[20]. Dia (Musa) berkata, "Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih[21], bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tafsir Al Kahfi Ayat 60-74
[6] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa pernah berdiri khutbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Ia menjawab, “Saya orang yang paling dalam ilmunya.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala kemudian mewahyukan kepadanya yang isinya, “Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu.” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara menemuinya?” Lalu dikatakan kepadanya, “Bawalah ikan dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.” Musa pun berangkat bersama muridnya Yusya’ bin Nun dengan membawa ikan dalam keranjang, sehingga ketika mereka berdua berada di sebuah batu besar, keduanya merebahkan kepala dan tidur (di atas batu itu), lalu ikan itu lepas dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dan cara perginya membuat Musa dan muridnya merasa aneh. Keduanya kemudian pergi pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari. Ketika pagi harinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,” dan Musa tidak merasakan keletihan kecuali setelah melalui tempat yang diperintahkan untuk didatangi. Muridnya kemudian berkata kepadanya, “Tahukah engkau ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan,” Musa berkata, “"Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ketika mereka sampai di batu besar itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menutup dirinya dengan kain atau tertutup dengan kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Lalu Khadhir berkata, “Dari mana ada salam di negerimu?” Musa berkata, “Aku Musa.” Khadhir berkata, “Apakah Musa (Nabi) Bani Israil?” Ia menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?" Khadhir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa?” Sesungguhnya aku berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau berada di atas ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “Engkau akan mendapatiku insya Allah sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan mendurhakai perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu, lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, lalu keduanya berbicara dengan penumpangnya agar mengangkutkan mereka berdua, dan ternyata diketahui (oleh para penumpangnya) bahwa yang meminta itu Khadhir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung lalu turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Khadhir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah kecuali seperti patukan burung ini ke laut (yakni tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah), lalu Khadhir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian dicabutnya.” (Melihat keadaan itu) Musa berkata, “Orang yang telah membawa kita tanpa meminta imbalan, namun malah engkau lubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam.” Khadhir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena lupaku dan janganlah engkau bebankan aku perkara yang sulit.” Untuk yang pertama Musa lupa, maka keduanya pun pergi, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khadhir memegang kepalanya dari atas, lalu menarik kepalanya dengan tangannya. Musa berkata, “Apakah engkau hendak membunuh seorang jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain.” Khadhir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” –Ibnu ‘Uyainah (rawi hadits ini) berkata, “Ini lebih berat.” Keduanya pun berjalan, sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta agar penduduknya menjamu mereka (namun tidak diberi). Keduanya pun mendapatkan sebuah dinding yang hampir roboh, maka Khadhir menegakkannya, Khadhir melakukannya dengan tangannya. Musa pun berkata, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Khadhir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, kita senang sekali jika ia bersabar sehingga ia menceritakan kepada kita tentang perkara keduanya.”

Al Qurthubi berkata, “Dalam kisah Musa dan Khadir terdapat beberapa faedah, di antaranya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berbuat dalam kerajaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan menetapkan untuk makhluk-Nya dengan apa yang Dia kehendaki yang bermanfaat atau bermadharrat, sehingga tidak ada ruang bagi akal dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya dan menyalahkan hukum-hukumnya, bahkan wajib bagi manusia untuk bersikap ridha dan menerima, karena pencapaian akal untuk memperoleh rahasia rububiyyah Allah sangat terbatas, oleh karennya tidak bisa ditujukan kepada hukum-Nya, “Mengapa begini?” dan “Bagaimana bisa begitu?”, sebagaimana tidak bisa ditujukan terhadap keberadaan dirinya, “Di mana dan dari mana?”, dan bahwa akal tidak sanggup memandang indah dan buruk, dan bahwa semua itu kembalinya kepada syara’, sehingga apa yang dikatakan indah dengan adanya pujian terhadapnya, maka hal itu adalah indah, dan apa yang dikatakan jelek, maka hal itu adalah jelek. Demikian pula (termasuk faedahnya) bahwa Allah Ta’ala dalam ketetapan-Nya memiliki hikmah-hikmah dan rahasia pada maslahat yang tersembunyi yang memang dipandang. Semua itu dengan kehendak dan iradah-Nya tanpa ada kewajiban atas-Nya dan tanpa ada hukum akal yang tertuju kepadanya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang berhati-hati dari sikap i’tiradh (mempersoalkan atau membantah) karena ujung-ujungnya adalah kegagalan.” Beliau juga berkata, “Kami pun di sini ingin mengingatkan dua buah kekeliruan. Kesalahan Yang pertama, persangkaan sebagian orang-orang jahil, bahwa Khadhir lebih utama daripada Musa karena berpegang dengan kisah ini dan kandungannya. Hal ini tidak lain muncul dari orang yang pandangannya sempit terhadap kisah ini dan tidak melihat kelebihan yang Allah berikan kepada Musa ‘alaihis salam berupa kerasulan, mendengar langsung firman Allah, diberikan-Nya kitab Taurat yang di dalamnya tedapat pengetahuan tentang segala hal, dan sesungguhnya para nabi Bani Israil masuk di bawah syari’atnya dan pembicaraan tertuju kepada mereka dengan hukum kenabiannya bahkan Isa pun juga. Dalil-dalilnya dalam Al Qur’an banyak. Cukuplah di antaranya firman Allah Ta’ala, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku." (terj. Al A’raaf: 144).

Al Qurthubi juga berkata, “Khadhir meskipun nabi namun bukan rasul berdasarkan kesepakatan. Keadaan Khadhir itu seperti salah seorang nabi di antara nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Musa yang paling utama di antara mereka. Jika kita katakan, bahwa Khadhir bukan nabi, tetapi wali, maka nabi lebih utama daripada wali. Hal itu merupakan perkara yang jelas berdasarkan akal dan naql (wahyu). Orang yang berpendapat sebaliknya (yakni nabi lebih utama daripada wali) adalah kafir karena hal tersebut sudah maklum sekali dari syara’. Beliau juga berkata, “Kisah Khadhir bersama Musa adalah ujian bagi Musa agar diambil pelajaran. Kesalahan yang kedua, sebagian orang Zindiq menempuh jalan yang sebenarnya merobohkan hukum-hukum syari’at. Mereka berkata, “Sesungguhnya dari kisah Musa dan Kadhir dapat diambil kesimpulan, bahwa hukum-hukum syari’at yang umum hanya khusus bagi orang-orang awam dan orang-orang bodoh, adapun para wali dan orang-orang khusus, maka mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, bahkan yang diinginkan dari mereka adalah apa yang terjadi dalam hati mereka, dan mereka dihukumi berdasarkan apa yang kuat dalam lintasan hati mereka karena bersihnya hati mereka dari kekotoran dan kosongnya dari penggantian. Nampak kepada mereka ilmu-ilmu ilahi dan hakikat rabbani. Mereka pun mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengetahui hukum-hukum juz’iyyah (satuan) sehingga tidak butuh teradap hukum-hukum syari’at secara keseluruhan sebagaimana sesuai dengan Khadhir, di mana Beliau tidak butuh kepada ilmu-ilmu yang nampak baginya yang ada pada Musa, dan diperkuat oleh hadits masyhur, “Bertanyalah kepada hatimu meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.” Terhadap perakatan ini, Al Qurthubi berkata, “Perkataan ini merupakan perbuatan zindiq dan kekafiran, karena mengingkari syari’at yang maklum, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberlakukan ketetapan-Nya dan kalimat-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui kecuali melalui para rasul yang menjadi perantara antara Dia dengan makhluk-Nya, di mana rasul-rasul tersebut menerangkan syari’at dan hukum-hukum-Nya…dst.”

Hadits di atas juga memberikan faedah kepada kita agar tidak tergesa-gesa mengingkari dalam masalah yang masih mengandung kemungkinan (lihat penjelasan hadits di atas lebih lengkapnya di Fath-hul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani).

[7] Yaitu Khidhr.

[8] Yakni rahmat kenabian menurut suatu pendapat ulama, sedangkan menurut pendapat mayoritas ulama bahwa rahmat di sini adalah rahmat kewalian, yakni ia salah seorang wali di antara wali-wali-Nya.

[9] Musa berkata kepadanya secara sopan, bermusyawarah dan memberitahukan keinginannya.

[10] Nabi Musa ‘alaihis salam meminta kepada Khadhir agar diajarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadanya karena menambah ilmu itu disyari’atkan.

[11] Yakni karena engkau akan akan melihat perkara-perkara yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya, di mana perkara tersebut zahir(kelihatan)nya mungkar, namun sesungguhnya tidak.

[12] Yakni engkau belum mengetahui maksud dan akhirnya.

[13] Disebutkan kata “Insya Allah” karena Nabi Musa ‘alaihis salam belum yakin terhadap kemampuan dirinya, dan seperti inilah kebiasaan para nabi dan para wali, di mana mereka tidak merasa yakin terhadap diri mereka sedetik pun.

[14] Yang aku lakukan dan bersabarlah; jangan dulu mengingkari.

[15] Yakni alasannya. Maka Nabi Musa menerima syaratnya karena memperhatikan adab murid terhadap guru.

[16] Di tepi pantai.

[17] Dengan mencabut salah satu papannya, lalu menambalnya.

[18] Untuk tunduk menerima dengan tidak mengingkari.

[19] Yakni pergaulilah aku dengan sikap maaf dan memudahkan.

[20] Dengan menarik kepalanya dari atas.

[21] Karena anak itu belum baligh.

Jumat, 03 Juni 2016

mitsaaqan ghaliizha

Luar biasa karena akad nikah termasuk satu dari tiga perjanjian agung yang diikat kuat dengan sumpah setia alias mitsaaqan ghaliizha

Pertama, perjanjian Allah dengan para nabi-Nya. 
Kedua, perjanjian-Nya dengan Bani Israil sewaktu Bukit Tsur diangkat. 

Ketiga, ya itu tadi, perjanjian antara calon pemimpin rumah tangga dengan bapak mempelai wanita di hadapan-Nya. 
Betapa tingginya arti penyatuan dua sejoli berlawanan jenis lewat akad nikah sehingga keistimewaannya diabadikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. 

source: http://satriamaulana.tumblr.com/

Selasa, 31 Mei 2016

satu tahun dan lebih

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah Swt. Dan tahmid akan terus terucap.
Alhamdulilah sudah satu tahun dan lebih, saya berada di jakarta, bukan menetap, bukan tinggal atau apapun, hanya singgah.

Jujur, bukan cita-cita atau impian berada di Jakarta apalagi untuk bekerja, karena menurut saya, saya tidak cocok dengan Jakarta.
Definisi tentang Jakarta hanya silaturahmi dengan saudara yang tinggal di sana, titik. Definisi lain, Jakarta itu ibukota, macet, banjir, sibuk, dan lain hal yang tidak cocok dengan saya. Namun, rencana Allah menempatkan saya di sini, di Jakarta. Kota terbaik dimata-Nya untuk saya datangi-singgahi-dan tinggali (untuk sementara)

Allah ta’ala berfirman: (yang artinya)
“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah : 216)

Bukan benci dengan Jakarta, hanya kurang atau tidak cocok saja. Namun, disinilah saya sekarang, di ibukota, yaitu Jakarta.

Pertanyaan klasik selalu muncul, kenapa?
Dan saya hanya bisa menjawab, Allah memberikan rezeki saya di sini, dan saya bersyukur akan hal itu. Namun, jujur, sebenarnya saya tidak punya alasan pasti dari pertanyaan 'kenapa?' itu hingga sekarang. Yang pasti saya bersyukur saya di Jakarta.

Sebelum di Jakarta saya sudah mencoba dan berkelana. Satu tempat ke tempat lainnya. Jadi jangan khawatirkan saya, saya tidak apa-apa. Saya tidak kecewa ataupun merasa gagal, tempat-tempat itu saja yang belum beruntung atas kehadiran saya. Jadi, apakah pertanyaan 'kenapa?' itu terjawab. Semoga sudah.

Saya bekerja di perusahaan satelit televisi berlangganan di barat Jakarta. Alhamdulilah posisi saya linier dengan ilmu saya walaupun tidak seutuhnya.

BERSAMBUNG
 

Jumat, 22 April 2016

Pas banget, kangen sama Mas !

Sepeda motor melaju kencang, aku memeluk erat kakakku dari belakang. Aku benci betul dengan motor sport kakakku ini karena sangat tidak nyaman untuk duduk dibelakang. Itu membuatku harus memeluk kakakku, mungkin orang mengira kami adalah sepasang kekasih.
“Hai Adik sayang, jangan tidur!”kakakku tiba-tiba menyentak.
“Eh enak aja! Kakak jangan ngebut, pegel nih dibelakang,”jawabku ketus.
“Salah sendiri gak bisa pakai motor kakak ini,”ujarnya.
“Yeee, jual aja ganti yang matic biar bisa gantian,”aku semakin ketus.
Kami berhenti diperempatan dekat sekolah SMA kami dulu. Sebuah mobil berhenti disebelah kami. Terlihat di dalamnya ada sepasangan suami istri juga orang tuanya. Terlihat begitu bahagia, meski aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Aku tersenyum. Aku menghela nafas.
Mobil itu berjalan, kami pun. Aku memerhatikan kakaku dari belakang, memerhatikan kepalanya yang tertutup helm full-face, memerhatikan tangannya yang memegang stang motor, memerhatikan bahunya. Tiba-tiba aku merasa sayang dengan kakakku ini, aku tersenyum.
Aku memeluk kakak dari belakang.
“Kak, pelan-pelan dong,"aku merajuk.
Sekalipun kami bertengkar, sebenarnya kakakku ini sulit menolak keinginanku kecuali urusan sepeda motor ini.
"Kak, kakak kalau nyari istri nanti yang baik ya, Kak.”
“Eh, ngomong apaan?” kakakku kaget.
“Iya, kalau nyari perempuan buat jadi istri kakak. Nyari yang baik.”
Ia tidak menghiraukanku. Aku terus berbicara.
“Kak, kemarin adik kan ngaji. Kalau udah nikah, adik harus lebih taat sama suami daripada sama ayah dan ibu. Lalu adik mikir, berarti sebenarnya tanggungjawab buat ngurus ayah dan ibu itu ada sama menantu perempuan dan anak laki-lakinya. Kalau laki-laki menikah, ketaatan dengan orang tuanya tidak berpindah, berbeda dengan perempuan. Adik pengen kakak kalau nyari menantu buat ayah dan ibu, cari yang baik ya Kak. Perempuan yang sayang sama mereka, yang bisa membantu kakak buat ngurus ayah sama ibu nanti. Karena mungkin adik tidak bisa berada lebih banyak untuk mereka.”
Kami terdiam.
“Adik kadang berpikir, mengapa perempuan harus seperti itu. Namun, adik mengerti dengan melihat bagaimana ibu selama ini ketika menjadi istri ayah.”
Kakakku diam saja, aku masih memeluknya, berbicara di dekat telinganya yang tertutup helm. Aku tahu dia masih bisa mendengar.
“Kak, berjanjilah untuk mencari perempuan yang baik. Tidak hanya baik kepada kakak, tapi juga sama ayah dan ibu. Perempuan yang sayang sama mereka, yang menghormati mereka, yang lembut dan menghargai mereka.”
Tiba-tiba kakakku menepi, menghentikan sepeda motornya. Aku melepas pelukan, heran. Dia membuka helmnya lalu menoleh. Dia tersenyum, mengelus kepalaku yang masih memakai helm.
Kami melanjutkan perjalanan. Aku memeluk kakaku semakin erat, seolah-olah takut kalau dia diambil sama orang lain. Tapi aku sadar bahwa suatu hari kakaku pasti akan diambil orang lain. Perhatiannya kepadaku mungkin tidak akan seperti hari ini lagi.
“Kak, aku sayang kakak. Cariin suami yang baiknya kayak kakak dong.”
Rumah, 21 April 2016 | ©kurniawangunadi

*Pertama, terimakasih masgun untuk kisahnya, jadi keinget dan kangen (selalu) sama mas aku lagi :')

*Kedua, rasanya pingin bisa meluk mas aku lagi namun akan segera ku ganti dengan panjatan do'a agar kelak kita sekeluarga besar kumpul bersama lagi disurgaNya,tunggu kita yaa mas!
 

*Ketiga, rasanya teringat kembali citaku ingin punya kakak perempuan (calon mas aku kelak) namun aku yakin mas aku sudah disiapkan dengan bidadari cantik olehNya,yey aku punya kakak perempuan bidadari :)
 

*Keempat, rasanya pingin dicariin mas aku calon yang baik (suami buat aku) dan aku yakin itu pasti sudah disiapkan Allah swt, orang yang tepat di waktu yang tepat.
 

*Kelima, semoga aku dipertemukan suami skaligus imam skaligus ayah untuk anak-anakku kelak yang terbaik di mataNya. Dan semoga suamiku kelak memiliki banyak saudara, jadi aku akan memiliki kakak perempuan juga laki-laki, dan adek perempuan juga laki-laki biar keluarganya rame terus,yey! Terutama saudara perempuan yang banyak karena dari dulu pingin punya saudara perempuan :)
 

*Keenam, semoga aku bisa terus memperbaiki diri untuk suamiku kelak, menjadi istri shalelah,menjadi anak shalehah (menantu) yang berbakti pada kedua orang tua suami (mertua) karna pada merekalah aku berbakti setelah menikah, dan suami berbakti pula pada kedua orangtuaku serta selalu mendukung aku menjadi anak shalehah untuk kedua orangtuaku.
 

*Ketujuh, semoga aku dianugerahi anak-anak yang banyak aamiin, kalau boleh kembar :)) yang paling penting dianugerahi keluarga kecil-besar sakinah mawaddah warrahmah selalu tertaut pada Allah, mendapat berkah, anak sholeh-sholehah, dan banyak kepinginnya, yang terbaik dari Allah aja :)
 

*Kedelapan, semoga adek laki-lakiku dipertemukan dengan perempuan baik (calon istrinya kelak) yang sepenuh hati, tulus, penuh kasih dan sayang pada adekku serta berbakti pada kedua orangtuaku.
 

Dan seterusnya.
Doa terbaik selalu terpanjat padamu Ya Allah.
Hanya Engkau yang tahu, yang terbaik untuk hambaMu ini yang banyak alpha.

Terakhir, kangen sama kamu Mas Bagas :')

Selasa, 08 Maret 2016

SAMPAI BATAS - masgun

Suatu malam, saya bercakap dengan kawan lama yang akan menikah beberapa minggu lagi. Mungkin, semacam farewel masa lajangnya, sekaligus meminta nasihat-nasihat baiknya. 
Aku : saya 
Zahra : kawan lama, bukan nama sebenarnya
Cerita ini dimulai dengan obrolan ringan hingga berujung pada pertanyaan-pertanyaan di life-crisis. 
Aku : Eh, kalau kamu mendapati sesuatu yang berharga, apakah kamu bersedia mengorbankan banyak hal dalam hidupmu? Waktu, tenaga, usia, pikiran, untuk memperjuangkannya yang belum tentu juga itu akan jadi milikmu? 
Zahra : Aku mah realistis anaknya, susah ditanya begitu... 
Aku : Haha..., gimana dong?  
Zahra : Ini maksudmu, memperjuangkan X? (temanku ini menyebut nama seseorang yang aku taksir) 
Aku : Kenapa sebut nama -_- 
Zahra : Kalau kamu percaya bisa memperjuangkan agama lewat dia, baru deh. 
Aku : Allahu Akbar! 
Zahra : Pasangan hidup itu jalan, tujuannya Allah!  
Aku : Siap, Bos! 
Zahra : Pasangan hidup juga bukan pilihan, yang memilihkan Allah. Intinya ikut aja sama kata Allah. Kalau dibilang enggak, nggak usah maksa. Kalau dibilang iya, perjuangkan dan pelihara.  
Aku : Bagaimana kita tahu, itu iya dan itu tidak? 
Zahra : Beda-beda, aku sih ngasih batas tiga kali ke diri sendiri. Dalam hal apapun, kalau enggak berhasil di percobaan ketiga, berarti ada jalan lain. 
Aku : Aku baru ke... 
Zahra : Yang penting definisi jalan dan tujuannya yang harus jelas, kamu boleh ngasih batas yang berbeda, nggak mesti tiga kali kayak aku. 
Aku : Aku paham! Aku tahu di mana batasnya! :)  
Zahra : Siti Hajar dapat air setelah percobaan ke tujuh, iya gitu aja. Definisi jalan dan tujuan. Lalu apa batasnya. Coba sampai batasnya, kalau enggak, ganti jalan. Coba sampai batasnya, nanti Allah akan turun tangan.
  
Aku : Terima kasih :) 
Zahra : Sabar ya, jangan melampaui batas. 
Yogyakarta, 3 Maret 2016 | (c)kurniawangunadi


note: dan 'jangan kelewatan batas' yaa an *nasehatuntukdirisendiri