Senin, 12 Oktober 2015

HIM



sampai jumpa-sheila on 7

hari ini satu temanku pergi
pergi jauh
takkan pernah kembali
sekeras apapun menangis
takkan merubah yang tlah terjadi
harus ku lepas

hari ini kan ku ingat kembali
semua tempat jalan waktu bersama
setiap kata yang tlah diucap
bagai warisan yang tlah disiapkan
harus ku jaga

selamat . . . jalan . . .
selamat . . . jalan teman
selamat . . . jalan
sampai jumpa

Tuhan yang aku cinta
mudahkan jalan dia
Tuhan yang aku cinta
sambut kehadirannya

hari ini satu temanku pergi
pergi jauh
dan takkan pernah kembali
sekeras apapun menangis
takkan merubah yang tlah terjadi
harus ku lepas

mulai hari ini
takkan terulang lagi
senyum canda marah atau kecewanya
badai rindu yang kini kurasa
badai ridu tak kan pernah reda
sampai jumpa

Selasa, 06 Oktober 2015

Waktunya . . .

eyakuyaa:
Suatu hari nanti, kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.
Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan.
Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan.
Yang membuat kalian tidak takut pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati,yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri.
Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang berpura-pura.

Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya, tapi juga dengan segalanya.
Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggungjawabkannya.
Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum sesaat.
Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya.
Suatu waktu nanti akan ada seseorang yang datang,dan membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan,yang akan kalian jadikan prioritas,bukan sekedar kalian banggakan di media sosial tapi kalian bohongi di kehidupan nyata.
Suatu hari nanti, kalian akan bertemu seseorang,yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya,yang akan membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang,yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama, berdua, tanpa ragu. Tanpa sempat terpikir untuk berpindah ke lain hati.

PS:

Maafkan ya, sudah membuat janji untuk rajin menulis. Nyatanya terus menerus repost-reblog-re yang lain-lain. Bukan tenggelam, hanya (masih) hanyut di lautan tulisan-tulisan milik orang lain.
 
Sebenarnya bukan tanpa alasan untuk repost-reblog-re yang lain-lain, karena tulisan-tulisan itu begitu sangat-amat-ingin-disimpan jadi jika suatu waktu saya butuh saya tinggal membaca lagi. Kepada para penulis saya meminta ijin untuk repost-reblog-re yang lain-lain yaa, yang terpenting sudah dicantumkan hak ciptanya dan bukannya ditulis ulang dan direka kepemilikan tulisan itu (jangan sampai jadi plagiator, amit-amit) 

Tolong diingatkan kalo ada hak cipta yang terlewat, karena manusia tempat lupa berada.
Mohon doakan ya semoga setelah ini aktif (dalam arti sesungguhnya untuk menulis)
 

Senin, 05 Oktober 2015

Tidak Terkenal di Dunia namun Terkenal di Langit

Kisah Uwais Al Qarni dan Baktinya pada Orang Tua

Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni ini patut diambil faedah dan pelajaran. Terutama ia punya amalan mulia bakti pada orang tua sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi yang menyuruh orang-orang meminta doa ampunan darinya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah disampaikan oleh beliau jauh-jauh hari.

Kisahnya adalah berawal dari pertemuaannya dengan ‘Umar bin Al Khattab ra.

Dari Usair bin Jabir, ia berkata, ‘Umar bin Al Khattab ketika didatangi oleh serombongan pasukan dari Yaman, ia bertanya, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?” Sampai ‘Umar mendatangi ‘Uwais dan bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?” Uwais menjawab, “Iya, benar.” Umar bertanya lagi, “Benar engkau dari Murod, dari Qarn?” Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham.”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”
Uwais menjawab, “Iya.”
Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”
Umar pun berkata, “Mintalah pada Allah untuk mengampuniku.” Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Allah.
Umar pun bertanya pada Uwais, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah”.
Umar pun mengatakan pada Uwais, “Bagaimana jika aku menulis surat kepada penanggung jawab di negeri Kufah supaya membantumu?”
Uwais menjawab, “Aku lebih suka menjadi orang yang lemah (miskin).”

Tahun berikutnya, ada seseorang dari kalangan terhormat dari mereka pergi berhaji dan ia bertemu ‘Umar. Umar pun bertanya tentang Uwais. Orang yang terhormat tersebut menjawab, “Aku tinggalkan Uwais dalam keadaan rumahnya miskin dan barang-barangnya sedikit.” 
Umar pun mengatakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.

Orang yang terhormat itu pun mendatangi Uwais, ia pun meminta pada Uwais, “Mintalah ampunan pada Allah untukku.”
Uwais menjawab, “Bukankah engkau baru saja pulang dari safar yang baik (yaitu haji), mintalah ampunan pada Allah untukku.”
Orang itu mengatakan pada Uwais, “Bukankah engkau telah bertemu ‘Umar.”
Uwais menjawab, “Iya benar.” Uwais pun memintakan ampunan pada Allah untuknya.
“Orang lain pun tahu akan keistimewaan Uwais. Lantaran itu, ia mengasingkan diri menjauh dari manusia.” (HR. Muslim no. 2542)

Faedah dari kisah Uwais Al Qarni di atas:
1- Kisah Uwais menunjukkan mu’jizat yang benar-benar nampak dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia adalah Uwais bin ‘Amir. Dia berasal dari Qabilah Murad, lalu dari Qarn. Qarn sendiri adalah bagian dari Murad.

2- Kita dapat ambil pelajaran –kata Imam Nawawi- bahwa Uwais adalah orang yang menyembunyikan keadaan dirinya. Rahasia yang ia miliki cukup dirinya dan Allah yang mengetahuinya. Tidak ada sesuatu yang nampak pada orang-orang tentang dia. Itulah yang biasa ditunjukkan orang-orang bijak dan wali Allah yang mulia.
Maksud di atas ditunjukkan dalam riwayat lain,
“Penduduk Kufah ada yang menemui ‘Umar. Ketika itu ada seseorang yang meremehkan atau merendahkan Uwais.”
Dari sini berarti kemuliaan Uwais banyak tidak diketahui oleh orang lain sehingga mereka sering merendahkannya.

3- Keistimewaan atau manaqib dari Uwais nampak dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Umar untuk meminta do’a dari Uwais, supaya ia berdo’a pada Allah untuk memberikan ampunan padanya.

4- Dianjurkan untuk meminta do’a dan do’a ampunan lewat perantaraan orang shalih.

5- Boleh orang yang lebih mulia kedudukannya meminta doa pada orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Di sini, Umar adalah seorang sahabat tentu lebih mulia, diperintahkan untuk meminta do’a pada Uwais –seorang tabi’in- yang kedudukannya lebih rendah.

6- Uwais adalah tabi’in yang paling utama berdasarkan nash dalam riwayat lainnya, dari ‘Umar bin Al Khattab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama . Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2542). Ini secara tegas menunjukkan bahwa Uwais adalah tabi’in yang terbaik.
Ada juga yang menyatakan seperti Imam Ahmad dan ulama lainnya bahwa yang terbaik dari kalangan tabi’in adalah Sa’id bin Al Musayyib. Yang dimaksud adalah baik dalam hal keunggulannya dalam ilmu syari’at seperti keunggulannya dalam tafsir, hadits, fikih, dan bukan maksudnya terbaik di sisi Allah seperti pada Uwais. Penyebutan ini pun termasuk mukjizat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

7- Menjadi orang yang tidak terkenal atau tidak ternama itu lebih utama. Lihatlah Uwais, ia sampai mengatakan pada ‘Umar,
“Aku menjadi orang-orang lemah, itu lebih aku sukai.” Maksud perkataan ini adalah Uwais lebih senang menjadi orang-orang lemah, menjadi fakir miskian, keadaan yang tidak tenar itu lebih ia sukai. Jadi Uwais lebih suka hidup biasa-biasa saja (tidak tenar) dan ia berusaha untuk menyembunyikan keadaan dirinya. Demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

8- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan birrul walidain, yaitu berbakti pada orang tua terutama ibu. Berbakti pada orang tua termasuk bentuk qurobat (ibadah) yang utama.

9- Keadaan Uwais yang lebih senang tidak tenar menunjukkan akan keutamaan hidup terasing dari orang-orang.

10- Pelajaran sifat tawadhu’ yang dicontohkan oleh Umar bin Khattab.

11- Doa orang selepas bepergian dari safar yang baik seperti haji adalah doa yang mustajab. Sekaligus menunjukkan keutamaan safar yang shalih (safar ibadah).

12- Penilaian manusia biasa dari kehidupan dunia yang nampak. Sehingga mudah merendahkan orang lain. Sedangkan penilaian Allah adalah dari keadaan iman dan takwa dalam hati.
Semoga bermanfaat.

Referensi:
Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.
Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Selesai disusun di Panggang, Gunungkidul, malam 25 Jumadal Ula 1436 H di Masjid Jami’ Al Adha Darush Sholihin, Gunungkidul
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

Rabu, 30 September 2015

SEPTEMBER berkah .

Alhamdulillah
Allah Maha Baik
Allah Maha Baik
Allah Maha Baik

September, bulan berkah.
Syukur tak terkira atas nikmat Allah swt.
Banyak rahmat
Banyak berkah
Banyak nikmat.

InsyaAllah akan berlanjut di tulisan selanjutnya.
Jangan lupa bersyukur dan berbahagia teman.

Kamis, 17 September 2015

Menyentuh dan Tersentuh .

KISAH PEMUDA YANG NEKAD 
MELAMAR PUTRINYA SYAIKH AL UTSAIMIN

Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih:
Beliau bercerita sendiri dalam muhadharah beliau, ketika beliau masih berstatus mahasiswa di al qashim, beliau mendatangi majlis syaikh al ‘utsaimin. setelahnya dari majlis tersebut, beliau menghampiri syaikh ‘utsaimin yang hendak pulang ke rumah syaikh ‘utsaimin, karena syaikh ‘utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. ditengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, ‘syaikh apakah antum mempunyai anak perempuan?’,
ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, syaikh ‘utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya, ‘ada apa akh?’,
pemuda itu menjawab, ‘kalau ada, ana berniat meminangnya, bolehkah ana meminangnya?
lalu apa yang dilakukan syaikh utsaimin? apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? kamu sudah hafal hadits berapa? sebelumnya kamu lulusan apa? gaji kamu berapa? tabungan kamu berapa?
Bahkan syaikh ‘utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaanpun kepada pemuda ini, syaikh ‘utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, Insya Allah akan aku telephon…”
Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu, beliau bertanya dalam hati, “apakah syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”, namun pemuda ini teringat perkataan syaikh yang menyuruhnya menunggu…
Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telephone yang dialamatkan ke asrama, namun kebetulan pemuda ini sedang kuliah. akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh syaikh ‘utsaimin…
Dalam hati dia bertanya, “kenapa ya syaikh ‘utsaimin mencariku?” karena ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak terlupakan…
Ketika beliau telp syaikh ‘utsaimin, beliau bertanya, “ada apa syaikh?” “ana ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”, “pembicaraan yang mana syaikh?”,
“pembicaraan ketika anta menyusul ana di jalan…
akhi silahkan kamu lanjutkan prosesnya?!!!”,
pemuda itupun terkejut, ternyata syaikh ‘utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan syaikh ‘utsaimin dengan terbata-bata,
“syaikh, perkenankan ana mengabari orang tua ana terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”,

“silakan akhi, ana tunggu kedatangan kalian…”
karena ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak syaikh ‘utsaimin…

Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan syaikh ‘utsaimin selama satu bulan tersebut?
Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…
Syaikh ‘utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana dimata teman-temannya, dimata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya… itu beliau lakukan sendiri…?!!!
Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga… Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau pastinya…

Pemuda ini adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih
“Maasha Allah…”

disarikan dari berbagai sumber